Oktober 14, 2017
Agustus 16, 2017
Kemerdekaan
Abdullah Haidir:
Renungan Kemerdekaan
Kira2…saat dahulu mujahidin Indonesia berjuang mengusir penjajah, apakah teriakan takbir yg kerap mereka lantangkan ataukah teriakan merdeka..?
Kira2…nilai2 apakah yg paling ampuh menggelorakan semangat juang para mujahid saat mengusir pemjajah? nilai agama atau nasionalisme..?
Kira2... tokoh2 inspirator perjuangan mengusir penjajah di berbagai pelosok tanah air, ulama atau artis..?
Kira2…negara2 mana yg sangat tulus menginginkn kemerdekaan bangsa kita saat itu…negeri2 Islam atau negeri2 imperialis salibis?
Kira2…jargon para mujahid kita saat mengusir penjajah dahulu… “merdeka ataoe mati” atau “hidup mulia atau mati syahid”…?
Kira2…inpirasi perjuangan para mujahid kita mengusir penjajah didapt sepulang mereka dari Mekah atau dari Washington dan London?
Kira2.... basis2 perjuangan para mujahid kita saat mengusir penjajah, masjid atau night club? pesantren atau bioskop? surau atau discotic?
Kira2… yang paling cepat merespon seruan jihad mengusir penjajah saat itu santri apa anak band?
Kira2… yang kini paling diharapkan arwah para mujahid pengusir penjajah, lantunan doa tulus atau nyanyian dan joget di panggung dangdut…?
Status ini bukan utk mengungkit masalah SARA… hanya agar diketahui bahwa tanpa Islam dan kaum muslimin…negeri ini bukan apa2
Maka.. menjadi ironis dan ahistoris, jika setelah merdeka, teriakan takbir menjadi asing dan ditakuti sedangkan nilai-nilai agama justru dicurigai..
Maka, menjadi ironis dn ahistoris, jika setelah merdeka bukannya membesarkan Allah, tapi justru mengagungkan materi dan jadi kacung imperialis…
Maka, adalah ironis & ahistoris jika setelah merdeka para ulama yang menjadi inspirator jihad melawan penjajah diabaikan bahkan dilecehkan…
Catatan kelam Bani Israel, ingin merdeka dari Fir’aun, minta pertolongan Allah dan taat terhadap Nabi Musa, namun setelah merdeka, Allah diingkari, Nabinya pun dimusuhi…
Selamat merdeka negeriku, moga kau makin sadar, darimana, apa, bagaimana dan untuk apa kemerdekaan itu….!!
Agustus 09, 2017
Wahai Pengusaha Muslim
*OPTIMISME PENGUSAHA MUSLIM TINGKAT TINGGI*
Oleh:
*Habib Salim Segaf Al-Jufri*
Ingatkah anda cerita heroik penaklukan dua negara super power *Romawi dan Persia* oleh orang2 Arab yang telah di penuhi cahaya Iman?
*Kisahnya mirip dengan kemenangan Daud melawan Jalut.*
Secara akal sepertinya mustahil orang2 Arab mengalahkan kekuatan yang tentaranya ditakuti seluruh bangsa pada saat itu.
Hal yg mirip juga terjadi di Jakarta, setahun lalu tidak ada yang berani melawan petahana. Mayoritas mengunggulkan beliau. Namun Qadarullah saat ini sang penguasa dapat takluk dengan banyak cara yang sudah Allah gariskan.
Hanya orang2 yang memiliki Iman saja yang meyakini rahasia langit. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.
Allahu Khoirun Maakiriin....
Saat ini ekonomi Indonesia dikuasai oleh golongan minoritas. Menurut Chairul Tanjung dari 50 orang terkaya *hanya 8 orang yang Muslim*.
Jadi hampir semua barang yang kita konsumsi makin *MENGKAYAKAN* mereka. Integritas bisnis mereka begitu menggurita. Hampir2 kita tidak bisa menembusnya.
Koneksi bisnis mereka sudah terbangun sejak 60 tahun lalu saat kita masih tersibukkan dengan urusan politik dan tidak menghiraukan sisi ekonomi.
*Kita baru tersadar di saat ternyata kekuatan mereka begitu mempengaruhi nasib anak cucu kita kelak.*
*Dengan kondisi seperti ini apakah membuat kita berkecil hati, lantas mengambil posisi di pojok ruangan yang sepi menikmati hidup yang hanya sekali ?*
Atau akan terus menyalakan semangat berbisnis untuk mengalahkan mereka sebagaimana *Abdurahman bin Auf* menyingkirkan pedagang2 yahudi dari Madinah.
Allah tidak sembarang memberi ilham intuisi berbisnis kepada hamba2nya. Allah telah memilih *Usman bin Affan* dan sahabat saudagar lainnya untuk menopang Dakwah Nabi.
Sebagaimana Allah juga memilih sahabat yang menjaga Al-Qur'an kepada sahabat semisal *Abdullah ibnu Mas'ud.*
Saat ini kita berbisnis bukan lagi hanya sekedar kepuasan pribadi. Tapi ada Misi Suci: *Mengembalikan Islam pada tempatnya.*
Ada target yang jauh ke depan, bagaimana dengan bisnis yang kita jalankan, bisa berkontribusi bagi menggeliatnya Kebangkitan Perabadan Islam.
Mudah bagi Allah memenangkan dakwah ini. Bisa saja Allah menangkan Islam tanpa Sahabat. Tapi Allah menyayangi hamba2nya agar memiliki peran akan kemenangan tersebut. Itulah rahman dan rahimnya Allah.
Dan Allah bisa saja kembalikan kejayaan islam saat ini dengan sekejab. Tapi Allah membuka kesempatan beramal kepada hamba2nya utk berkontribusi.
Dengan kegigihan, integritas dan profesionalitas semoga Allah takdirkan kita menggambil peran sebagaimana posisi abdurrahman bin auf dan usman bin affan.
Mari kita erat bergandeng tangan, menguatkan azzam, menyelami indahnya ukhuwah , menyuarakan n langit bersama.
Semoga Allah angkat dan lemparkan kita, sehingga bisa melampaui mereka yang sudah 60 tahun di depan kita.
kalau Allah berkehendak maka tiada yang bisa menghalangi.
*Kun faya kun*...
*Jadilah*...
*maka terjadilah*..
Apapun profesi kita, berniagalah juga..
Usahakan selalu mengkonsumsi barang dan jasa pengusaha muslim.. dan membeli di pedagang/pengecer milik muslim.. dari saudara dan tetangga lebih utama
Sebarkan agar mengispirasi kekuatan ekonomi muslim
Agustus 07, 2017
Disiplin dan Konsisten
Arafat || Channel Telegram:
DISIPLIN DAN KONSISTEN
Jika penduduk sebuah negara memiliki sifat disiplin dan konsisten dalam pekerjaannya, maka negara itu akan siap bersaing di era globalisasi seperti sekarang ini.
Oleh karena itu, kita sebagai penduduk Indonesia harus mulai belajar disiplin dan konsisten demi kemajuan bangsa kita sendiri.
Tahukah saudara, salah satu faktor yang mengajarkan ketidakdisiplinan dan tidak konsisten ternyata lagu yang sering kita nyanyikan ketika masih kecil. Mari kita buktikan contohnya dalam lirik ini,
"Aku seorang kapiten, mempunyai pedang panjang, kalau berjalan prok prok prok"
Coba lihat, di awal lagu cerita tentang pedang, tapi di akhir lagu justru cerita tentang sepatu dilihat dari bunyinya prok prok prok. Seharusnya kan bunyi pedang cring cring cring.
Mau contoh lagu lain? Silahkan ingat-ingat lagu ini,
"Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja"
Nah ini tidak konsisten juga, lagi di tengah-tengah naik gunung, belum juga sampai puncak sudah mengeluh tinggi-tinggi sekali. Kemudian memutuskan untuk lihat-lihat kiri kanan saja, gak jadi naik gunungnya.
Terakhir didapati juga dalam lagu di bawah ini,
"Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung di kebun kita"
Ini benar-benar mengajarkan untuk tidak produktif. Kalau hanya menanam jagung, buat apa cangkul yang dalam? Memangnya mau buat sumur? Hehehe.
Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!
Jangan Takut dengan Resiko
Ippho Santosa - ipphoright:
Risiko?
Itu wajar.
Saran Chairul Tanjung:
- Jangan takut mengambil resiko.
- Jika berhasil, Anda akan bahagia.
- Jika gagal, Anda akan lebih bijaksana.
Saran saya, "Biasakan diri kita dengan risiko. Jangan tabu. Jangan ragu." Kalau kita anti-risiko, lha, hal besar apa yang mungkin kita capai? Nggak ada.
Coba perhatikan orang-orang besar. Entah di bidang bisnis, olahraga, atau politik. Pastilah mereka pernah mengambil langkah besar dan risiko besar. Right?
Berdasar data Bappenas hingga Juni 2017, penjualan sepeda motor tumbuh minus 26,9% secara year on year. Rendahnya permintaan juga tercermin dari pertumbuhan penjualan mobil yang tercatat minus 27,5% secara year on year.
Ya, daya beli tengah merosot. Itu harus kita akui. Tapi, jangan sampai berita-berita seperti ini melemahkan semangat entrepreneurship kita. Jangan sampai. Kalau mau buka usaha, yah buka saja.
Ketika ekonomi lagi slow, biasanya pesaing diam dan menahan diri. Nah, sebenarnya ini kesempatan bagi kita untuk masuk. Nanti, begitu ekonomi grow, kita sudah 'terbang'. Yang lain? Baru mempertimbangkan untuk masuk.
Sekali lagi, biasakan diri kita dengan risiko. Jangan tabu. Jangan ragu. Teman-teman setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Penyebab sebuah Penyakit
Seorang Profesor di Jepang melakukan Riset yg Mengejutkan...?
1. *maag* bukan hanya diakibatkan karena kesalahan pola makan, tapi justru lebih didominasi karena *stress*
2. *hypertensi* bukan hanya diakibatkan oleh terlalu banyak konsumsi makanan yang asin, tapi lebih dominan karena kesalahan dalam me manage *emosi*.
3. *kolesterol* bukan hanya diakibatkan oleh makanan berlemak, tapi rasa *malas berlebih* yang lebih dominan menimbun lemak.
4. *asthma* bukan hanya karena terganggunya suplai oksigen ke paru-paru, tapi sering merasa *sedih* yang membuat kerja paru-paru tidak stabil.
5. *diabetes* bukan hanya karena terlalu banyak konsumsi glucousa, tapi sikap *egois dan keras kepala* yang mengganggu fungsi pankreas.
6. penyakit *liver* bukan hanya karena kesalahan pola tidur, tapi sifat *suudzon* kepada orang lain yang justru merusak hati kita.
7. *jantung koroner* bukan hanya diakibatkan oleh sumbatan pada aliran darah ke jantung, tapi *jarang sedekah* membuat jantung kita kurang merasakan ketenangan, sehingga detaknya tidak stabil.
Faktor penyebab penyakit adalah karena masalah
- *Spiritual* 50%
- *Psikis* 25%
- *Sosial* 15%
- *Fisik* 10%
Jadi kalau kita ingin selalu sehat, perbaiki diri kita, pikiran kita, terutama hati kita dari segala jenis penyakit hati : hasad, hasud, iri, dengki, pendendam, fitnah, ghibah, riya, ujub, benci, amarah terpendam, sombong, pelit, su'udzon, egois, keras kepala, sedih, malas, dan lainnya.
Perbanyak istighfar dan mudah memaafkan.
Lembutkan hati dan ikhlas kan yang sudah terjadi.
Banyak bersyukur dan nikmati kebahagiaan sekecil apapun.
Jalin persaudaraan yang mengajak dan selalu mengingatkan dalam kebaikan.
Serap ilmu dari arah mana saja.
Dari kawan maupun lawan.
Karena seringkali ada ibrah tersembunyi dari kejadian yang menimpa orang-orang di sekitar kita.
* Tebar Aura Positif
* Serap Aura Positif
SEMOGA BERMANFAAT
Agustus 05, 2017
At Tin
Arafat || Channel Telegram:
ABSISI
"Mba jangan lupa pohon yang di ujung itu disiram tiap pagi cukup dengan satu gayung air, kalau saya biasanya sambil baca surat At-Tin, mba juga boleh ikuti. Sebab itu kan pohon tin" sebelum pergi mudik, saya mengajarkan perawatan pohon tin kepada si mba penjaga rumah.
Maklumlah libur lebaran tahun ini menyatu dengan libur kenaikan kelas, jadi kami akan meninggalkan rumah cukup lama. Sayang kan kalau sampai pohon tin itu terbengkalai.
Singkat cerita, kemarin setelah puas berlibur waktunya kami pulang ke rumah. Pohon di ujung itu rupanya benar telah berubah. Batangnya memang masih kokoh, tetapi dedaunannya tampak menipis. Begitu saya dekati, daun-daun tin kering terlihat berserakan di tanah.
Ah, gak salah lagi. Ini pasti si mba lupa nyirami pohon ini. Ya sudahlah masih untung pohonnya tetap hidup. Rupanya pohon tin adalah salah satu jenis pohon yang memiliki kemampuan absisi.
Saudara masih ingat kan pelajaran biologi tentang absisi, dimana sebuah pohon rela melepaskan daun-daunnya demi bertahan hidup. Bahkan pohon pun mampu mengambil keputusan untuk meninggalkan apa yang masih ia inginkan, semata karena sang pohon mengerti bahwa hidupnya jauh lebih penting.
Sayangnya manusia tidak memiliki kemampuan absisi secara otomatis. Absisi pada manusia adalah pilihan yang kembali kepada diri masing-masing.
Detik ini juga ingatlah keadaan kita sendiri. Apakah kita cukup kuat dan rela melepaskan kelemahan-kelemahan diri demi bertahan hidup? Seperti kebiasaan bermain gadget berlebihan sehingga banyak waktu terbuang? Atau kebiasaan menunda pekerjaan? Atau tidak berani mencoba perubahan?
Sudah selayaknya kita juga mampu mengambil keputusan untuk meninggalkan apa yang masih kita inginkan, semata karena kita mengerti bahwa hidup ini jauh lebih penting.
Masa kita kalah sama pohon tin, padahal Allah sudah berfirman manusia diciptakan sebaik-sebaiknya melebihi mahluk yang lain, apalagi sekedar pohon.
Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!





